Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari merdeka.com

best profit 2qKementerian Perdagangan berencana membentuk satuan khusus atau Task Force Karet Nasional (TFKN) untuk mengatasi dampak anjloknya harga karet dunia. Tim ini merupakan sinergi bersama antar kementerian dan pelaku usaha karet.

 

Di tingkat pemerintah, Kemendag mengaku terus melakukan diplomasi dalam organisasi karet internasional seperti International Tripartite Rubber Council (ITRC) dan International Rubber Consortium (IRCo). Pemerintah juga menggelar pembicaraan dengan negara-negara produsen utama karet dunia seperti Thailand dan Malaysia untuk mengatasi anjloknya harga karet.

 

“Kami menjalin kerja sama dengan negara-negara produsen utama karet dunia untuk menjaga keseimbangan supply dan demand karet alam dunia, serta menstabilkan harga karet internasional pada tingkat yang remuneratif bagi petani,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Partogi Pangaribuan melalui keterangan tertulis, Jakarta, Minggu (24/8).

 

Dia berharap kerja sama internasional itu dapat dikembangkan dengan merangkul negara berkembang penghasil karet di tingkat ASEAN seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja melalui rencana pembentukan ASEAN Rubber Committee.

 

Masalah lain adalah rendahnya mutu Bahan Olah Karet (Bokar) dalam negeri. Ada pula soal pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap produk pertanian yang dipandang merugikan petani kecil.

 

Ketua Umum GAPKINDO, Daud Husni Bastari, mengaku sedang menghadapi tantangan berat seiring anjloknya harga karet hingga di kisaran USD 1,66 per kilogram. Diperparah dengan makin rendahnya permintaan dunia pada pasokan karet alam. Ini perlu mendapat perhatian khusus.

 

Berdasarkan data kementerian Perdagangan, sektor karet alam menyumbang 4,61persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada 2013 (USD 149,92 miliar). Pada saat ini, karet merupakan salah satu komoditas andalan ekspor utama Indonesia. Indonesia merupakan negara penyuplai terbesar ke-2 di dunia setelah Thailand.

 

Pada 2013, produksi karet alam mencapai 3,2 juta ton (Ditjen Perkebunan, 2013) dengan jumlah sekitar 16 persen (0,5 juta ton) teralokasikan untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan 84 persen diekspor (2,7 juta ton). Volume ekspor karet pada 2013 mencapai 2,7 juta ton dengan nilai USD 6,91 miliar.

 

Dibandingkan 2012, angka tersebut menunjukkan peningkatan volume ekspor sebesar 260.000 ton (10,7 persen) dari sebelumnya 2,44 juta ton dan penurunan nilai ekspor sebesar USD 950 juta (12,1 persen) dari sebelumnya USD 7,86 miliar. Negara tujuan utama ekspor karet pada 2013 adalah Amerika Serikat dengan volume mencapai 609.800 ton (share 22,6 persen); diikuti China dan Jepang yang masing-masing sebesar 511.700 ton (share 18,9 persen) dan 425.900 ton (share 15,8 persen).