Liputan6.com, Jakarta Di awal pekan ini,  konflik Irak bisa menjadi alasan kenaikan harga emas. Dengan level resisten terdekat di kisaran US$ 1.285 per ounce.

Kemudian menjelang akhir pekan, hasil rapat moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) bisa menjadi penggerak pasar.

“The Fed kemungkinan masih akan menerapkan pemangkasan program pembelian obligasi dan bila pasar melihat Fed memberi penekanan pada kemungkinan kenaikan suku bunga, harga emas bisa tertekan turun kembali, dan sebaliknya,”  kata Head of Reseach and Analysis Divison PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra saat dihubungi Liputan6.com, Senin (16/6/2014).

Sebelumnya pada hari Selasa pekan lalu, AS akan merilis data indeks harga konsumen (CPI) bulan Mei yang bisa memberikan indikasi inflasi AS. Data CPI AS secara tahunan masih konsisten jauh di bawah target 2%.

Tapi bila ada peningkatan dari prediksi dan data bulan sebelumnya, berpeluang bisa menekan turun harga emas. “Kisaran pekan ini berada di kisaran US$ 1.265- US$ 1.285 per ounce.

Analis dari Central Future Wahyu Tri Laksono menilai harga emas berpotensi menguat ke resistance di level US$ 1.280, US$ 1.286, US$ 1.290 dan US$ 1.300. Namun, emas masih rentan tekanan selama berada di bawah  level US$ 1.305 untuk kembali jatuh mendekati  support di level US$ 1.270, US$ 1.258, US$ 1.245, dan US$ 1.240.

“Tembusan di bawah level US$ 1.240 akan membuka jalan pelemahan ke support jangka menengahnya yang berada di  level US$ 1.230, US$ 1.215, US$ 1.200, dan  terkuat di US$ 1.180,” terangnya.

Untuk sementara ini, lanjut dia, belum ada indikasi kuat bahwa emas bisa bertahan di atas level US$ 1.305 per ounce. Namun, jika emas bisa bertahan di atas level US$ 1.305, maka terbuka sedikit potensi untuk mendekati resistance jangka menengahnya yang berada di level US$ 1.345, US$ 1.365, US$ 1.380, dan  terkuat di US$ 1.400.

“Agenda fundamental paling penting pekan ini adalah pertemuan moneter bank sentral AS (FOMC meeting) Kamis dini hari nanti yang bisa menekan emas jika FOMC mengindikasikan penegasan potensi kenaikan suku bunga AS nantinya,” ungkap Wahyu.

Selain FOMC, faktor fundamental yang signifikan dari AS bagi pergerakan emas pekan ini adalah rilis data TIC long term  purchase, dan industrial production (Senin), data  building permit, CPI, dan housing start  (Selasa),  data current account (Rabu), serta data jobless claims dan Philly Fed Manufacturing Index (Kamis). (Ndw)