http://bisnis.liputan6.com

Liputan6.com, New York – Harga emas merangkak naik dari posisi terendah setelah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan beberapa data yang hasilnya cukup mengecewakan. Namun memang, penguatan tak cukup besar karena nilai tukar dolar AS masih perkasa.

Mengutip The Bullion Desk, Kamis (16/4/2015), harga emas di pasar spot pada perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta) berakhir di level US$ 1.195 per ounce. Naik US$ 2,60 dolar dari perdagangan sebelumnya. Emas diperdagangkan dalam kisaran yang sempit yaitu antara US$ 1.189 per ounce hingga US$ 1.197,5 per ounce.

Pada perdagangan sebelumnya, harga emas berada pada posisi terendah dalam dua minggu terakhir. Sentimen utama yang selama ini menekan emas adalah penguatan dolar AS.

Penguatan harga emas pada perdagangan kemarin karena beberapa data yang dikeluarkan oleh otoritas di Amerika tidak sesuai dengan estimasi dari para analis. Namun memang, meskipun data-data yang dirilis mengecewakan, nilai tukar dolar AS masih kuat sehingga tidak bisa mendorong harga emas melonjak tinggi.

“Sebenarnya jika dilihat, permintaan fisik emas mengalami peningkatan karena menjelang Festival Akshaya Tritiya di India pekan depan. Namun karena dolar tetap perkasa maka harga emas tidak banyak bergerak,” jelas analis ICBC Standard Bank, Leon Westgate.

Dari China, angka pertumbuhan ekonomi yang baru saja dikeluarkan berada di level 7 persen. Angka tersebut merupakan level terendah dalam enam tahun terakhir. Namun pelaku pasar memang sudah mengantisipasi hal tersebut sehingga tidak terlalu mempengaruhi harga emas.

Sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga emas lainnya adalah hasil negosiasi utang Yunani. Memang, telah ada kesepakatan baru antara Yunani dan IMF mengenai utang, namun negara tersebut harus berhadapan kembali dengan Eropa. Kemungkinan besar Yunani tetap tidak mau mengikuti syarat-syarat yang diberikan oleh Eropa terkait penghematan. (Gdn)