Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari liputan6.com

Setelah melemah pekan lalu, harga emas diprediksi akan kembali jatuh sepanjang minggu ini. Sebagian besar partisipan dalam survei mingguan bertajuk `Kitco News Gold Survey` memprediksi penguatan dolar dan dugaan kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) terjadi secara tiba-tiba dapat membuat harga emas semakin merosot.

 

Mengutip laman Kitco.com, Senin (15/9/2014), sebanyak 18 partisipan survei memprediksi harga emas akan mengalami penurunan. Sementara itu, hanya lima responden yang meyakini adanya kenaikan harga emas, dan satu partisipan menilai harga emas akan bergerak stagnan.

 

Pekan lalu, para partisipan memberikan prediksi yang tepat di mana harga emas untuk kontrak pengiriman Desember di divisi COMEX melemah US$ 37 per ounce selama sepekan.

 

Pakar strategi pasar senior Charlie Nedoss di LaSalle Futures Group mengatakan, harga emas yang ditutup di level US$ 1.240 per ounce pekan lalu akan menjadi pemicu lemahnya harga logam mulia tersebut pekan ini.

 

Selain itu, dia juga menilai penguatan dolar akan menjadi tekanan tersendiri bagi emas terutama melihat gelagat The Fed yang akan fokus membahas kenaikan suku bunga pekan ini.

 

“Saya tak mengatakan suku bunga akan naik pekan ini, tapi para komite The Fed tengah menuju ke arah sana. Itu akan melemahkan harga emas,” tuturnya.

 

Menurutnya, inflasi energi dan pangan dapat membuat harga emas naik, tapi kenyataannya tidak begitu.

 

Sementara para partisipan yang melihat adanya kenaikan harga emas mengatakan dolar tak akan lagi mengalami penguatan. Pasalnya sejumlah isu global seperti konflik Rusia dan Ukraina dapat mengangkat kembali harga emas.

 

“Situasi geopolitik mulai memanas, dan itu dapat membuat investor beralih pada emas. Itu juga akan membuat dolar membaik memang dan berdampak negatif pada emas. Tapi situasi geopolitik saat ini tampaknya lebih membantu emas daripada dolar, ungkap CEO Adrian Day Asset Management, Adrian Day. (Sis/Ndw)