TEMPO.CO , Jakarta– Gara-gara Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan (BI rate) tinggi sebesar 7,5 persen selama enam bulan terakhir, kredit macet (nonperforming loan/NPL) di sektor konsumsi berpotensi meningkat. Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional,  Sigit Pramono,  mengatakan sektor konsumsi seperti properti, mobil, motor paling rentan terhadap kredit macet.

“Pengguna kredit ini mayoritas berpendapatan rendah, sehingga jika bank menaikkan suku bunganya, nasabah tersebut akan kesulitan membayar,” ujar dia saat dihubungi Tempo,  Kamis 29 Mei 2014.  NPL untuk sektor konsumsi sendiri,  menurut Sigit,  di bawah 5 persen. Namun secara keseluruhan persentase NPL  bank masih berada di titik aman yaitu di bawah 2 persen.

Perbanas masih mencermati potensi kenaikan kredit macet yang disebabkan masih tingginya BI rate. Bank Indonesia selama 6 bulan terakhir mematok suku bunga acuan sebesar 7,5 persen.  “Kondisi ini sebenarnya serba salah,”  kata Raden Pardede, Ketua Pelaksana Perbanas. Ia mengatakan bahwa tingginya BI rate merupakan upaya  untuk menekan pertumbuhan kredit agar tidak terlampau tinggi di tengah penurunan current account deficit (defisit neraca berjalan). (Baca juga: BI Rate Berpeluang Turun 6-6,5 Basis Point).

Sigit menimpali,  kredit macet tidak semata-mata bersumber dari tingginya BI rate.  Sebab, kata dia, jika bank tidak merespon posisi BI rate  dengan menaikkan suku bunga, kredit macet tidak akan pernah terjadi.  “Potensi kredit macet seharusnya bisa menjadi warning dari Bank Indonesia kepada bank lainnya untuk berhati-hati memberikan kredit,” tutur dia.  (Baca pula: BI Rate Tak Turun, Kredit Macet Bisa Meningkat).