http://www.tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM -Minat wisatawan mancanegara (wisman) terhadap wisata bahari Indonesia sangat besar. Seperti diungkapkan Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Yanti Sukamdani, ada beberapa destinasi yang menjadi incaran wisman.

“Saat di ITB Berlin untuk wisata bahari permintaannya luar biasa, terutama Wakatobi, Raja Ampat, Derawan, Kepri (Kepulauan Riau),” ungkapnya pada acara “Seminar Peningkatan Konektivitas Pulau-pulau di Indonesia untuk Pengembangan Wisata Bahari” yang diadakan Forum Wartawan Pariwisata, di Jakarta, Selasa (10/3/2015).

ITB Berlin merupakan pasar wisata terbesar di dunia yang pada tahun ini berlangsung pada 4-8 Maret 2015 di Berlin, Jerman. Hal sama juga terjadi di Tiongkok saat BPPI mengadakan acara promosi di tiga kota di Tiongkok, salah satunya ke Shanghai.

“Kami bawa MICE, hotel, spa, golf, dan wellness. Peminat bahari ternyata sangat luar biasa, bahkan peserta sudah mengunjungi beberapa tempat destinasi wisata bahari,” katanya.

Seperti diungkapkan Menteri Pariwisata Arief Yahya pada kesempatan yang sama, pemerintah saat ini mengincar wisman asal Singapura, Malaysia, Tiongkok, Australia, dan Jepang. Kelima negara ini merupakan penyumbang terbesar wisman ke Indonesia.

“Mereka menghasilkan 60 persen kunjungan wisman. Orang datang karena jarak dan purchasing power,” katanya.

Promosi yang dilakukan pemerintah kepada Tiongkok, ungkap Arief, banyak berfokus pada wisata bahari. Sementara itu, Yanti mengakui pasar Tiongkok begitu tinggi. Namun Yanti mengakui jangan “mengecilkan” pasar Eropa. “Mereka masih ke sini untuk untuk marine tourism (wisata bahari),” tuturnya.

Sementara itu, menurut Direktur Niaga Garuda Indonesia, Handayani mengatakan turis Tiongkok menyukai daerah Sulawesi Utara, seperti Manado dan sekitarnya. Yanti menambahkan Lembeh di Sulawesi Utara digemari turis Tiongkok.

Sedangkan turis Korea Selatan, ungkap Handayani, menyukai Bali, terutama untuk bulan madu. “Saya ke Korea kalau (warga Korea) ditanya honeymoon mau ke mana, jawabannya ke Bali,” katanya. (Ni Luh Made Pertiwi)