Ekonomi RI Bisa Tumbuh Tinggi Kalau Subsidi BBM Dikurangi

Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari detik.com

best profit 1bPertumbuhan ekonomi yang tinggi selalu menjadi target pemerintah setiap tahunnya. Diharapkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

 

Namun untuk mencapai target tersebut tidak mudah. Bahkan saat ekonomi sudah tumbuh tinggi pun harus dipastikan dalam kondisi yang sehat dan berkualitas.

 

“Kalau ingin pertumbuhan yang tinggi, harus kurangi anggaran untuk subsidi BBM (bahan bakar minyak). Misalnya dengan kenaikan harga,” kata Suhariyanto, Deputi Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/8/2014).

 

Anggaran subsidi BBM masuk dalam kelompok belanja pemerintah. Namun hanya terhitung sebagai anggaran yang konsumtif, bukan belanja produktif. Padahal, ratusan triliun rupiah dianggarkan untuk subsidi BBM.

 

“Kalau anggaran itu di BBM semua, berarti pemerintah nggak bisa bergerak. Belanja yang produktif seperti infrastruktur dan kesehatan, yang merupakan pendorong pertumbuhan, tidak bertambah,” jelasnya.

 

Bila subsidi BBM dialihkan ke belanja yang lebih produktif, Suhariyanto optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai lebih dari 6%. Tidak hanya itu, neraca perdagangan dan transaksi berjalan juga akan lebih sehat.

 

“Selain ekonomi tumbuh, kan juga sehat. Impor minyak pasti tidak besar lagi,” ujarnya.

Suhariyanto menegaskan, kebijakan ini harus diambil oleh pemerintahan mendatang. Menurutnya, sudah jelas subsidi BBM tidak dinikmati oleh mereka yang membutuhkan yaitu masyarakat miskin.

 

“Siapapun pemerintahnya, harus mengurangi subsidi BBM,” tukasnya.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengemukakan hal senada. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan kembali naik pada 2015 pada rentang 5,5-6%. Asalkan pemerintahan baru berani mengurangi subsidi BBM

 

“Tahun 2015, saya masih lihat range 5,5-6%. Caranya, jawaban saya adalah turunkan subsidi BBM dan ekonomi bisa naik lagi,” kata Chatib di kantornya, Jakarta, Selasa (5/8/2014).

 

Ia menjelaskan, permasalahan pertumbuhan ekonomi ada pada investasi, ekspor, dan belanja pemerintah. Untuk investasi dan ekspor, permasalahannya ada pada sistem logistik nasional yang belum berjalan dengan optimal.

 

“Jadi masalahnya itu ada di logistik. Ada sistem yang menghambat itu tidak berjalan dan tumbuh,” ujarnya.

 

Masalah logistik, lanut Chatib, sangat terkait dengan ketersediaan infrastruktur. Karena sektor swasta belum mampu untuk masuk, harus dimulai dari pemerintah.

 

“Sekarang dari mana uangnya, kalau ruang fiskal itu tidak tersedia? Artinya harus ada anggaran yang disiapkan untuk membangun infrastruktur. Makanya saya selalu sampaikan adalah berkaitan dengan reformasi subsidi BBM,” tegasnya.