Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari tribunnews.com

best profit 24Dunia arsitektur Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan berat, khususnya saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan pada 2015 mendatang.

 

Para pakar dan praktisi yang bergerak di bidang arsitektur diprediksi akan menghadapi persaingan antara arsitek lokal dan arsitek dari negara-negara ASEAN “Arsitek Indonesia yang sudah tersertifikasi hanya sekitar 3.000 orang sedangkan jumlah yang dibutuhkan lebih dari 8.000 arsitek untuk dapat melayani kebutuhan lokal,” ujar Bambang Eryudhawan, saat tampil dalam acara Rapat Peripurna Pembahasan dan Perencanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif di Balairung Soesilo Soedarman kantor Kementerian Parekraf, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Kamis (3/7/2014).

 

Bambang juga mengusulkan agar pemerintah dan para pemangku kepentingan memperhatikan jumlah jurusan Arsitektur di perguruan tinggi di Indonesia yang telah mengalami inflasi. Dia menyebutkan jumlah sekolah arsitektur tekah mencapai 140 dengan kualitas lulusan yang kurang memenuhi standar kualifikasi yang diperlukan.

 

Kegiatan ini menampilkan Menparekraf Mari Elka Pangestu sebagai pembicara kunci sekaligus pimpinan rapat yang menampilkan 18 wakil dari subsektor ekonomi kreatif (ekraf). Acara ini melibatkan 300 peserta yang mewakili kalangan orang kreatif, komunitas, akademisi, media, serta pemerintah pusat dan daerah.

 

“Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan Focus Group Discustion (FGD–red) yang melibatkan para pemangku kepentingan ekonomi kreatif,” kata Mari Ekla Pangestu ketika membuka acara ini.

 

Mari Elka Pangestu menjelaskan, ekraf merupakan sektor strategis dalam pembangunan nasional ke depan. Sebab ekraf telah membuktikan perannya dalam perekomian nasional secara signifikan. Mari menunjukkan data bahwa sejak 2013 pertumbuhan ekraf mencapai 5,76 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,74 persen.

 

Dari sisi kontribusi terhadap PDB nasioanl, ekraf memberikan kontribusi sebesar sebesar 7 persen. Selain itu ekraf mampu menyerap 11,8 juta tenaga kerja atau sebesar 10,72 persen dari total tenaga kerja nasional, menciptakan 5,4 juta usaha atau sekitar 9,68 persen dari total jumlah usaha nasional, dan berkontribusi terhadap devisa negara sebesar Ro 119 triliun atau sebesar 5,72% dari total ekspor nasional.

 

Menparekraf mengatakan, orang kreatif dipastikan akan mampu mencapai kesejahteraan dan kualitas hidup lebih baik. Sebab mereka dapat menciptakan nilai tambah dengan basis pengetahuan dan warisan budaya serta teknologi.

 

“Termasuk din dalamnya sebagai hal utama ialah warisan budaya dan tekonologi yang sudah ada dari ide kreatif dan inovasi sampai ide kreatif mereka terwujud menjadi karya yang dapat digunakan. Juga ada pasarnya. Selain itu ekraf dapat mengangkat nama bangsa Indonesia ke tingka dunia,” ujar Mari Elka Pangestu. (wip)