TEMPO.CO , Jakarta – Perusahaan tambang pelat merah, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk mencatatkan rugi di kuartal I 2014 sebesar Rp 272,6 miliar dibandingkan kuartal I tahun lalu membukukan laba Rp 407,6 miliar. Sekertaris Perusahaan Antam, Tri Hartono mengatakan kerugian itu karena perseroan terdampak kebijakan pemerintah soal larangan ekspor mineral mentah yang mulai diberlakukan awal tahun ini. “Karena efek larangan ekspor dan masih rendahnya harga komoditas,” ujarnya ketika dihubungi, 2 Juni 2014.

Menurut dia, dua hal utama yang mengakibatkan Antam rugi di kuartal I di antaranya hilangnya pendapatan penjualan bijih nikel akibat pemberlakuan larangan ekspor bijih mineral mentah. (Baca juga : Pendapatan Antam Tergerus Larangan Ekspor Mineral)

Pada kuartal I 2013, penjualan bijih nikel perseroan sebesar Rp 1,1 triliun atau menyumbang 33 persen dari total penjualan bersih di periode tersebut sebesar Rp 3,3 triliun. Sedangkan pada kuartal I 2014, Antam hanya membukukan penjualan bijih nikel sebesar Rp 87 miliar atau hanya menyumbang 4 persen dari total penjualan bersih kuartal I 2014 sebesar Rp2,3 triliun.

“Penjualan bijih nikel itu merupakan penjualan terakhir perseroan di 2014, sebelum berlakunya larangan ekspor mineral mentah pada tanggal 12 Januari,” kata Tri.

Kemudian, penyebab kedua adalah fluktuasi Harga Komoditas. Menurut Tri, harga emas di 2014 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Antam mencatatkan harga jual rata-rata emas di kuartal I 2014 sebesar US$ 1.318 per troy ounce atau turun 23 persen dibandingkan dengan harga rata-rata periode yang sama tahun 2013. “Penurunan ini disebabkan antara lain oleh sentimen pasar terhadap perbaikan ekonomi Amerika Serikat,” ungkap Tri. (Lihat juga : Antam Bagikan Dividen Rp 92,23 Miliar)

Tidak berbeda, Antam juga mencatatkan harga jual rata-rata feronikel di kuartal I 2014 sebesar US$ 6,20 per pound (lb) atau mengalami penurunan sebesar 21 persen dibandingkan harga rata-rata di kuartal I 2013. Menurut Tri, kenaikan harga feronikel baru terlihat di penghujung bulan Februari 2014. “Itu disebabkan oleh sentimen pasar yang bullish akibat terbatasnya persediaan bijih nikel, bahan baku nickel pig iron di Cina serta krisis di Ukraina,” ujarnya.