Bestprofit Futures

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan menyumbangkan gajinya sebesar US$ 400 ribu atau setara dengan Rp 5,3 miliar per tahun ke sebuah badan amal. Kabar ini dikonfirmasi oleh Sekretaris Pers Gedung Putih. Bestprofit Futures

Yang mengejutkan, Trump ingin korps pers Gedung Putih yang memutuskan ke badan amal mana ia harus menyumbang. Demikian seperti dilansir BBC, Rabu, (15/3/2017).

Sebelum dilantik, dalam program 60 Minutes yang ditayangkan CBS, Trump pernah mengatakan ia tidak akan menerima gaji presiden.

Dan kabar soal penghasilannya akan disumbangkan ke sebuah badan amal itu dikonfirmasi setelah awak media menyinggung hal tersebut.

“Niat presiden sekarang adalah menyumbangkan gajinya pada akhir tahun dan dia berbaik hati dengan meminta Anda menentukan ke mana harus disumbangkan,” terang Sekretaris Pers Gedung Putih, Sean Spicer.

Spicer lantas bergurau, membiarkan media memilih badan amal mana yang akan disumbangkan merupakan cara untuk menghindari pemeriksaan.

“Saya rasa dia telah berjanji kepada rakyat Amerika ingin menyumbangkannya untuk amal dan ia akan senang menerima bantuan Anda untuk menentukan badan amal yang harus disumbangkan,” ujar Spicer.

Sejak tahun 2001, gaji presiden AS telah ditetapkan sebesar Rp 5,3 miliar per tahun. Sebelumnya, Trump sempat menyebut bahwa ia hanya akan mengambil gajinya sebesar US$ 1 atau setara Rp 13.351 dengan alasan, presiden diwajibkan secara hukum untuk menerima upah.

Hingga kini belum diketahui badan amal mana yang dipilih korps pers Gedung Putih. Ada juga saran agar gaji presiden dimanfaatkan untuk beasiswa jurnalisme via Asosiasi Koresponden Gedung Putih.

Trump bukanlah presiden AS pertama yang memilih tidak mengambil gajinya. Presiden ke-31 AS, Herbert Hoover yang dikenal sebagai pebisnis tambang sebelum jadi presiden juga melakukan langkah serupa. Selain itu terdapat pula John F Kennedy yang memutuskan menyumbangkan gajinya ke badan amal.

Mr Spicer kemudian berjalan pergi mengatakan: “Terima kasih banyak,” sementara Chauhan mengulang, “Anda tahu Anda bekerja untuk seorang fasis, benar?”

Dalam sebuah posting blog, Chauhan menulis bahwa dia adalah warga negara Amerika yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat.

Dia mengatakan dia “terkejut” oleh komentar juru bicara Trump, menulis: “Itu adalah rasisme dan itu adalah ancaman tersirat.”

Chauhan, yang merupakan putri dari imigran, mengakui bahwa dia “tidak sopan” dalam komentarnya kepada ajudan Trump itu.

Dia bilang dia ingin merebut “kesempatan besar untuk mendapatkan jawaban sementara Spicer tengah sendirian tanpa perlindungan yang biasanya diberikan.”

Nona Chauhan mengkritik balik kepada mereka yang mencelanya secara online dengan menulis di Twitter: “Saya memiliki perasaan yang jelas untuk pria juru bicara seorang fasis. Nazi tidak berhenti untuk basa-basi…”

Sementara, para pembela Spicer mengatakan, pernyataannya tidak bermaksud menyerang Nona Chauhan. Mereka mengartikan, “Amerika adalah negara hebat karena orang bisa mendekati pembantu presiden bahkan saat mereka berbelanja.”

Chauhan menolak penafsiran itu, mengatakan bahwa Spicer seharusnya mengatakan “Ini adalah negara besar yang memungkinkan kita bisa memiliki perbedaan pendapat”.

( mfs – Bestprofit Futures )