REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Kurs dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah Federal Reserve mengatakan stimulus moneter tidak mungkin memicu inflasi.

Bank sentral AS atau The Fed pada Rabu merilis risalah pertemuan kebijakan pada April, yang mengatakan bank sentral tidak “menghadapi sebuah trade-off (penukaran) antara tujuan penciptaan lapangan pekerjaan dan inflasi.”

Sementara itu, bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini setelah pertemuan dua harinya. Namun, beberapa analis berspekulasi bank sentral dapat memperluas langkah-langkah pelonggaran pada Juli.

“Ekonomi Jepang diperkirakan akan melanjutkan pemulihan moderat sebagai sebuah tren” dan stimulus moneter “telah mengerahkan pengaruh yang diinginkan,” kata BoJ dalam sebuah pernyataan.

BoJ mulai membeli sekitar tujuh triliun yen (sekitar 70 miliar dolar AS) utang pemerintah per bulan sejak April 2013 untuk meningkatkan perekonomian dan melawan deflasi.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,3678 dolar dari 1,3698 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,6895 dolar dari 1,6840 dolar. Dolar Australia merosot menjadi 0,9235 dolar dari 0,9256 dolar.

Dolar dibeli 101,40 yen Jepang, lebih tinggi dari 101,27 yen pada sesi sebelumnya. Dolar naik menjadi 0,8938 franc Swiss dari 0,8923 franc Swiss, dan bergerak naik menjadi 1,0917 dolar Kanada dari 1,0895 dolar Kanada.