http://economy.okezone.com

SYDNEY – Ekonomi global menghadapi ujian terbesarnya sejak krisis utang Eropa, karena investor takut mesin penggerak ekonomi tidak berjalan dengan maksimal. Jepang dan kawasan euro menunjukkan tanda-tanda pelemahan baru dari hari ke hari dan pasar negara berkembang, seperti China, menekan pertumbuhan dan bukan mendorong.

Kekhawatirannya ekonomi global sulit keluar dari resesi, membuat persenjataan stimulus Bank Sentral Amerika Serikat (AS) terus memudar. Akhirnya, hal ini meninggalkan harapan pasar keuangan, yang menginginkan lokomotif ekonomi dunia tersebut mampu kembali dari resesi.

Menurut JPMorgan Chase & Co, dolar AS memiliki risiko tinggi untuk melemah terhadap yen Jepang, dan menambah penurunan terbesar dalam enam bulan. Gejolak dalam pasar global membuat kekhawatiran bahwa pertumbuhan dan inflasi melambat.

“Ada kegelisahan umum di seluruh pasar. Orang-orang nampaknya memandang negatif posisi jangka panjang dolar-yen, dan mengambil sikap wait and see,” kata asosiasi pedagang valuta asing di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, Naohiro Nomoto, seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (16/10/2014).

The Bloomberg Indeks Dollar Spot mengalami penurunan, karena para pedagang memperkirakan kenaikan suku bunga Federal Reserve yang pertama akan dilakukan pada Desember 2015, setelah sebelumnya ditaksir pada Juli.

Dolar AS melemah 1,1 persen menjadi USD106,01 per yen Jepang, penurunan terbesar sejak 8 April. Meski demikian, Greenback berhasil naik 0,1 persen menjadi USD1,2825 per euro setelah melemah 1,4 persen kemarin. Sedangkan yen Jepang berada di 135,94 per euro. (mrt)