Bestprofit Futures Jakarta

Majelis hakim Pengadilan Jakarta Pusat akan menggelar sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso hari ini, Rabu (10/8/2016).

Sidang perkara kematian Wayan Mirna Salihin dijadwalkan akan dimulai pada Rabu pagi ini pukul 09.00 WIB. Dalam persidangan ke-11 ini bakal menghadirkan sejumlah saksi penting, yakni anggota Kepolisian Sektor Tanah Abang, ahli teknologi informasi, ahli racun, dan pakar forensik.

Yang menarik, beberapa hari sebelum persidangan digelar, Kepolisian Australia atau Australian Federal Police (AFP) telah menyerahkan dokumen berisi informasi mengenai Jessica Wongso, terdakwa kasus pembunuhan Mirna Salihin, atau yang dikenal luas sebagai kasus kopi sianida.

Dokumen itu menyebut bahwa Jessica diduga menderita masalah kesehatan mental yang serius. Laporan yang didapat yang didapat ABC 7.30 tersebut menyebutkan bahwa perempuan 27 tahun itu juga tercatat pernah beberapa kali berhadapan dengan aparat Negeri Kanguru.

Namun, apakah dokumen Jessica tersebut bakal mempengaruhi jalannya sidang Jessica Wongso atau tidak, hakim yang akan menentukannya.

Yang jelas, pada sidang terdahulu telah menyingkap fakta-fakta baru. Dua ahli yang dihadirkan membeberkan keahliannya seputar kematian Mirna Salihin.

Fakta-fakta itu terkuak dari bukti scientific yang dikumpulkan dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Pusat Raden Said Sukanto, dr Slamet Poernomo dan Kepala Bidang Kimia dan Biologi Laboratorium Forensik Bareskrim Polri, Komisaris Besar Nursamran Subandi.

Berikut fakta-fakta terbaru persidangan Jessica Wongso, Rabu 3 Agustus 2016, yang dirangkum Bestprofit Futures Jakarta.

Baca Ini Dokumen Australia ‘Bayangi’ Sidang Lanjutan Jessica Wongso part.2
1. Tidak Autopsi Menyeluruh

Di hadapan Majelis Hakim Kisworo, dr Slamet Poernomo mengungkap fakta bahwa pihaknya tidak melakukan autopsi menyeluruh terhadap jasad Mirna Salihin. Penasihat hukum Jessica, Otto Hasibuan sontak kaget setelah mendengar fakta tersebut. Sebab, yang ia ketahui selama ini jasad telah diautopsi secara keseluruhan.

“Sidang pertama dia bilang diautopsi seluruhnya tidak ada berkas yang mengatakan hanya mengambil sampel,” kata Otto.

“Masa menentukan matinya orang hanya ambil sampel lambung, biasanya autopsi seluruh tubuh,” dia menuturkan.

Sementara itu, Slamet menjelaskan, meski standar autopsi dilakukan dari kepala sampai kaki, ada pengecualian autopsi tidak dilakukan menyeluruh.

“Kalau sebab-sebab lain bukan karena sianida tidak sespektakuler ini. (Sakit) jantung tidak pernah mengalami perlukaan di bibir. Jantung tidak kejang-kejang, tidak kepanasan,” jelas dr Slamet.

2. Jumlah Sianida di Kopi Mirna

Kombes Nursamran Subandi mengungkapkan, jumlah pasti natrium sianida (NaCN) yang ditelan Wayan Mirna Salihin dalam sekali menyedot es kopi Vietnam adalah sekitar 20 mililiter (ml). Kesimpulan ini diperoleh setelah timnya 20 kali mengambil sampel barang bukti sisa kopi yang diminum Mirna melalui sedotan.

“Untuk itu kami harus tahu isi (sianida) dalam sedotan berapa banyak. Kami lakukan uji coba dengan sedotan yang sama, bahan yang sama. Dari 20 sedotan, dirata-rata (sianida) itu sekitar 20 ml,” ucap Nursamran.

Oleh Nursamran dan tim forensik, tingkat konsentrasi sianida dalam 20 mililiter kopi Mirna dideteksi sekitar 15 gram per liter. “Bukan 15 gram per gelas ya.”

Lanjutnya, jika gelas berisi es kopi Vietnam di Kafe Olivier mampu menampung 300-350 ml larutan kopi, maka banyaknya sianida yang dimasukkan pembunuh Mirna berjumlah 5 gram.

“Dari kronologi, laporan polisi yang kami baca, korban sempat sekali menyedot larutan kopi bersianida. Kalau dalam gelas ada sekitar 300 sampai 350 mililiter, sianida yang dimasukkan sekitar 5 gram,” Nursamran menjelaskan.

Jumlah ini dinilai tidak cukup untuk merenggut nyawa seseorang. Dengan berat badan korban (60 kg), sekitar 172 miligram sianida atau 1,72 gram baru berpotensi mematikan.

“Hampir dua kali lipat besarnya yang masuk di tubuh korban. Apalagi dia melampaui 172 miligram. Untuk korban seberat 60 kg akan mati,” sebut dia.

 

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)