http://investasi.kontan.co.id

JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpotensi menguat hari ini merespon naiknya harga minyak mentah. Pada Rabu (25/3) kemarin mata uang Asia termasuk rupiah melemah terhadap dollar AS. Inflasi AS yang mulai naik membuat investor kembali membeli dollar. Bersamaan dengan itu, IHSG juga turun ke level 5.405,49. Bursa globa utama juga turun tercermin dari koreksi tajam indeks Dow menjaid 17.718,54.

Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih memperkirakan hari ini rupiah ada potensi menguat ke Rp 12.950 per dollar AS merespon naiknya harga minyak mentah. “Tetapi ada potensi menuju Rp 13.020 per USD jika permintaan dollar AS dalam negeri tinggi,” katanya dalam risetnya, Kamis (26/3).

Sementara Bursa Asia kemungkinan berlanjut melemah didukung dengan indeks futurenya yang negatif. Lana menjelaskan, hari ini isu domestik yang menjadi penggerak pasar adalah kebijakan terkait tambang dan energi.

Pertama, Kementrian ESDM melonggarkan aturan konsentrat yang diekspor untuk pasir besi dan zirkonium. Sebelumnya kedua jenis mineral tersebut tidak boleh diekspor tanpa diolah terlebih dahulu.

Sementra, pelaku usaha bidang mineral mengeluhkan pembangunan smelter yang mahal dan membutuhkan listrik yang tinggi. Pelonggaran ini diharapkan bisa meningkatkan ekspor senilai US$780 juta dengan volume 18 juta ton.

Kedua, Kementrian ESDM akan mengubah subsidi untuk elpiji 3kg menjadi subsidi tunai yang disalurkan melalui KKS sehingga akan ada harga tunggal untuk gas elpiji 3 kg dan 12 kg.

Harga tunggal ini membuat harga tabung 3 kg akan menjadi Rp 40.000 per tabung dari saat ini Rp 18.000 per tabung. Efek naiknya harga ini bisa mengerek harga-harga lain seperti harga makanan jadi. “Alhasil inflasi berpotensi naik,” kata Lana.