Bestprofit Futures Jakarta

Bursa Asia menguat pada perdagangan saham Rabu pekan ini seiring investor menunggu hasil pemilihan presiden Amerika Serikat (AS).

Indeks saham MSCI Asia Pasifik naik 0,5 persen ke level 138,49 pada pukul 09.09 waktu Tokyo. Indeks saham Jepang Topix menguat 0,7 persen. Indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,4  persen. Diikuti indeks saham Selandia Baru/NZX 50 dan indeks saham Australia menguat 0,3 persen.

Pemilihan presiden atau Pilpres AS menjadi katalis bursa saham. Sentimen pilpres AS memberikan ketidakpastian sehingga membuat indeks saham acuan di kawasan Asia Pasifik itu gagal raih level tertinggi. Bursa Asia pun akan bergerak volatile seiring investor hadapi pilpres AS.

“Ini akan menjadi hari besar untuk pasar saham. Pasar sudah price in kemenangan Clinton. Pasar juga akan bergejolak,” kata Niv Dagan, Direktur  Peak Asset Management seperti dikutip dari laman Bloomberg, Rabu (9/11/2016).

Berdasarkan analisa, Clinton akan lebih banyak meraih  suara pada awal pemilihan ketimbang Trump. Trump akan berjuang di wilayah Florida, Iowa dan Nevada. Berdasarkan analisa Slate.com menunjukkan Clinton  memimpin lebih awal di Pennsylvania. Akan tetapi informasi itu tidak menunjukkan siapa yang akan menang di setiap negara bagian AS.

Gejolak yang terjadi partai Republik dan calon presiden AS Donald Trump telah mendorong spekulasi investor kalau hal tersebut memberikan keuntungan bagi partai Demokrat dan calon presiden AS dari partai tersebut Hillary Clinton.

Selain itu, sentimen bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga pada Desember 2016 juga membayangi bursa saham.

“Pasar telah mengandalkan ekspektasi stimulus moneter untuk waktu lama tapi itu berubah dengan imbal hasil obligasi naik di seluruh dunia. Naiknya suku bunga dan EPS yang jatuh, jelas buruk untuk saham,” jelas Norihiro Fujito, Senior Investment Strategist Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities seperti dikutip dari laman Reuters, Rabu (12/10/2016).

Di pasar uang, mata uang Inggris pound naik dari posisi terendahnya di tengah sesi perdagangan yang bergejolak. Pound naik 1,3 persen di awal perdagangan Asia ke posisi US$ 1,22 usai hampir turun lima persen.

“Ada aksi beli untuk pound. Tapi mengingat Brexit akan tetap menjadi tema utama untuk pasar,”” ujar Shinichiro Kadota, Kepala Riset Barclays Securities.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)