http://www.tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penjualan batu akik dalam beberapa waktu terakhir seperti jamur di musim hujan, tumbuh subur secara cepat. Hal ini diakui oleh Uje (25) seorang pedagang batu akik di Jakarta Gems Center (JGC), Rawa Bening, Jakarta Timur, Sabtu (31/1/2015). Menurutnya, sejak tahun lalu, penjualan batu akik memang meningkat pesat.

“Mulai ramai tahun 2014. Awalnya jenis Batu Bacan yang ramai, baru merembet ke mana-mana seperti Pacitan, Kladen, dan lain-lain. Seperti jenis Kladen kalau dulu harganya di bawah, sekarang bisa naik sampai Rp 100 ribu,” kata Uje yang tokonya sudah berjualan di JGC sejak 22 tahun silam.

Uje menambahkan, dalam sehari omzet minimal yang bisa diraup oleh tokonya sebesar Rp 4 juta per hari. Sedangkan, jika sedang hari baik maka omzet tokonya bisa mencapai Rp 25 juta per hari.

“Apalagi kalau Sabtu Minggu, bisa lebih lah. Bisa sampai Rp 15 hingga 25 juta. Ini karena perputaran lebih cepat batu akik dibandingkan batu mulia,” jelas Uje.

Hal ini senada dengan Toto yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Asosiasi Pedagang Batu Perhiasan di JGC. Menurut Toto, dalam sebulan ia bisa meraih omzet sekitar Rp 100 hingga 200 juta. Angka itu memang tak pasti, karena kadang ada saja batu seperti Bacan dengan harga Rp 100 juta bisa langsung laku dalam sehari.

“Bisnis batu akik itu bisa ramai sekali, bisa enggak. Rata-rata sebulan bisa lah Rp 100 – 200 juta. Tapi kalau punya produk bagus bisa langsung laku 100 juta. Kemarin saja saya baru jual bahan Batu Bacan 5 kg seharga Rp 500 juta,” kata Toto.

Ladang bisnis batu akik ternyata tidak hanya laku di pasar lokal saja, melainkan juga di pasar dunia, khususnya Tiongkok. Hal ini diakui juga oleh Haji Toto, pedagang di JGC yang sering melakukan ekspor ke negeri tersebut.