http://bisnis.news.viva.co.id

Butuh biaya besar bangun infrastruktur. Apakah hasilnya sepadan?

VIVAnews – Piala Dunia 2014 yang diadakan di Brasil, sebelumnya telah memicu banyak protes dari para aktivis yang konsen pada masalah kemiskinan dan ketidak setaraan yang terjadi di Brasil.

Dilansir Forbes, Selasa 24 Juni 2014, pada tahun lalu pengunjuk rasa dengan menggunakan bahasa Inggris membuat beberapa spanduk bertuliskan protes diadakannya Piala Dunia di Brasil.

Tulisan itu, seperti “Kita tidak perlu Piala Dunia” dan “Kita perlu uang untuk rumah sakit dan pendidikan”.

Namun, ilmuwan politik Diego von Vacano dan Thiago Silva melalui artikelnya di The Washington Post menanggapi hal itu.

Menurut mereka, protes yang dilakukan aktivis itu sangat paradoks, karena Brasil telah menikmati perbaikan sosial dan ekonomi yang sangat signifikan sejak adanya tawaran menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 pada 2003 silam.

Lebih luas lagi, ajang Piala Dunia 2014 ternyata memicu munculnya ekonomi Amerika Latin selama satu dekade terakhir.

Lautan kaos kuning yang bisa dilihat pada saat pertandingan Kolombia dan penonton Meksiko yang mengenakan kaos hijau adalah bukti keberhasilan ekonomi Amerika Latin baru-baru ini dan semakin meningkatnya masyarakat kelas menengah.

Menurut David Goldblatt, sejarawan sepak bola mengatakan, “Gambar di televisi bisa menipu, mereka yang mengenakan pakaian Kolombia, belum tentu merupakan warga negara Kolombia.”

Tetapi, di Estadio Mineirao di Belo Horizonte itu berkerumun 57.000 orang. Media Chili melaporkan, ada sekitar 10.000 orang melakukan perjalanan ke Brasil untuk mendukung tim nasional yang dijagokannya.

Saat ini, jumlah masyarakat kelas menengah Brasil merangkak naik. Pengunjung yang datang pun, hampir seluruhnya memburu belanja suvenir sepak bola dan oleh-oleh lainnya.

Brasil telah menghabiskan US$2 miliar untuk pembangunan stadion yang mulai dibangun pada 2010. Sementara, pada tahun ini, pemerintah Brasil telah menghabiskan US$360 miliar untuk program pendidikan dan kesehatan.

Itu artinya, lanjut dia, pemerintah Brasil menghabiskan lebih US$200 dalam program kesehatan dan pendidikan untuk setiap satu dolar yang mereka keluarkan untuk membangun stadion Piala Dunia.

Sementara itu, kesehatan, pendidikan, dan sistem transportasi di Brasil membutuhkan investasi berkelanjutan dan perbaikan, belanja Piala Dunia tidak memiliki penghalang pengeluaran untuk program kegiatan sosial.

Ekonomi Brasil memang dikenal memiliki ketimpangan yang mengakar. Di satu sisi, Brasil adalah negara yang terkenal dengan banyaknya orang super kaya dunia.

Menurut analisa Forbes, Brasil merupakan rumah dari puluhan miliarder dunia, seperti Roberto Irineu Marinho, Joao Roberto dan Jose Roberto Marinho, yang mengendalikan Globo, kerajaan media di Amerika Latin.

Jumlah gabungan kekayaan mereka mencapai lebih dari US$28 miliar. Pada tahun lalu, perusahaan media itu melaporkan membukukan laba sebesar US$1,2 miliar.

“Dari 65 miliarder Brasil yang masuk dalam daftar miliarder dunia yang disusun Forbes baru-baru ini, 25 di antara adalah saudara sekandung. Delapan keluarga memiliki beberapa anggota yang masuk dalam daftar itu,” ujarnya.

Jorge Lemann, pemilik Anheuser-Busch InBev, memiliki kekayaan bersih US$22 miliar. Dia menjadi miliarder peringkat ke 30 di dunia. Lima belas keluarga terkaya di Brasil memiliki total kekayaan mencapai US$122 miliar. Jumlah yang hanya sedikit lebih rendah dari gabungan output ekonomi tahunan Ekuador dan dan Costa Rica.

Sebelumnya digembar-gemborkan kemewahan stadion Piala Dunia, deretan miliarder Brasil, dan jutaan warga yang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tapi kini, pemerintah Brasil berhasil memberantas kemiskinan selama dekade terakhir.

Berdasarkan laporan terbaru dari Pusat PBB untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), pada 2005, sebanyak 38 persen penduduk Brasil masih hidup di bawah garis kemiskinan. Tetapi, pada 2012 angka kemiskinan turun drastis, menjadi hanya 18,6 persen dari total penduduk Brasil.

Dengan kata lain, sejak 2005, Brasil telah efektif mengurangi jumlah kemiskinan. Sejak dahulu, Amerika Latin dikenal sebagai wilayah paling tidak setara di dunia, dan Brasil dikenal karena sejarah kolonialnya dengan warga yang terpecah pada kelompok super kaya dan sangat miskin.

Dan sekarang, Piala Dunia telah membuat Brasil membuat prestasi yang mengesankan dalam pertumbuhan sosial ekonomi dalam satu dekade terakhir, dengan puluhan juta orang bergeak dari kemiskinan ke kelas menengah.