http://bisnis.liputan6.com

Liputan6.com, New York – Dengan segala kekayaan dan kehidupan mewahnya, orang kaya kerap kali mendapatkan kritikan dari masyarakat biasa. Apalagi, kini banyak orang kaya memamerkan kekayaannya melalui berbagai jejaring sosial seperti Instagram.

“Orang kaya tidak peka. Orang kaya egois. Orang kaya tidak tahu rasanya bekerja keras,” begitulah yang sering dituding kalangan biasa pada para orang kaya seperti dilansir dari laman Business Insider, Selasa (7/7/2015).

Penelitian yang digelar pakar keuangan personal ternama Farnoosh Torabi, bersama psikolog keuangan sekaligus perencana keuangan bersertifikat Brad Klontz menemukan, ketidaksukaan pada orang kaya justru mempersempit peluang untuk menambah harta dan masuk ke kalangan atas. Sentimen negatif pada orang kaya seringkali muncul atau mulai tertanam sejak masa kecil.

“Jika Anda meyakini bahwa uang itu hal buruk dan orang kaya bersifat jahat, maka peluang Anda untuk menjadi orang kaya akan berlalu begitu saja,” kata Klontz.

Artinya, saat seseorang memandang orang kaya sebagai sosok yang jahat, dia sedang menekan dirinya sendiri untuk tidak menjadi seperti itu.

Saat dirinya memandang uang sebagai sesuatu yang buruk, dia juga akan membatasi penggunaan uang untuk dirinya sendiri.

Ironisnya, Klontz menemukan, orang yang memiliki keyakinan kuat bahwa menjadi orang kaya itu buruk, justru cenderung berhasrat kuat untuk menjadi kaya. Konflik ini dianggap Klontz dapat berbahaya bagi Anda yang mengalaminya.

“Konflik itu secara internal membuat upaya Anda tertahan. Itu membuat Anda mudah bertemu dengan kegagalan,” kata Torabi.

Jika Anda selalu mengaitkan uang dengan keserakahan, Anda mungkin tak akan pernah bisa menjadi kaya raya. Itu merupakan harga psikologis yang harus dibayar dalam sebuah upaya pencapaian kesuksesan finansial.(Sis/Nrm)