PLASADANA.COM – Agaknya sangat jarang, atau mungkin tidak ada, perusahaan yang tak pernah terkena krisis atau masalah. Sebuah entitas bisnis yang hendak beranjak dewasa dan maju mau tidak mau akan menghadapi masalah, entah besar atau kecil.

Masalah atau krisis pun dianggap sebagai batu ujian metode pembuktian kehebatan seorang pemimpin perusahaan atau CEO. Ketahanan dan kemampuan dalam menangani krisis adalah salah satu indikator kapabilitas seorang pemimpin. Apapun hasilnya, berhasil atau gagal, proses seorang pemimpin dalam menangani masalah kerap menjadi sorotan.

Menurut dosen Tuck School of Business Amerika Serikat, Paul Argenti, ada beberapa langkah bijak dalam menangani krisis di satu perusahaan. Berikut langkah-langkahnya.

1. Meminta maaf

Menurut Argenti, ada istilah yang harus diingat saat terjadi masalah. Mea culpa atau mengakui kesalahan. Dia mengatakan jika ada kegagalan, orang lain akan merasa lebih baik jika mereka memahami sang pemimpin yang merasa bersalah. Sayangnya, banyak eksekutif perusahaan enggan minta maaf karena takut akan memancing tuntutan hukum. Namun menurut Argenti, dampak dari tak mengakui kesalahan lebih mahal ketimbang potensi tuntutan hukum.

2. Menjelaskan apa yang terjadi dan akan dilakukan

Pemimpin perusahaan harus menjelaskan apa penyebab masalah yang terjadi dan apa yang akan dilakukan untuk memperbaikinya. Meski memiliki konsekuensi pahit, seorang CEO harus memiliki cara penyampaian yang baik dan menyebabkan dampak negatif sekecil mungkin. Petinggi perusahaan pun harus menjabarkan hal spesifik serta fokus untuk menangani pihak yang paling dirugikan. Dengan demikian, kepercayaan terhadap seorang pemimpin akan meningkat.

3. Mengalah

Banyak contoh pemimpin perusahaan yang mengundurka diri dengan alasan menanggung kesalahan kolektif. Dan itulah yang menjadi tanggung jawab utama seorang CEO. Selain legowo untuk mundur, seorang pemimpin layaknya mengalah dan mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang keselamatan pribadi. Misalnya, rela pesangonnya dibayar paling akhir setelah anak buahnya.
– See more at: http://plasadana.com/content.php?id=7411#sthash.5bhFUcma.dpuf

PLASADANA.COM – Agaknya sangat jarang, atau mungkin tidak ada, perusahaan yang tak pernah terkena krisis atau masalah. Sebuah entitas bisnis yang hendak beranjak dewasa dan maju mau tidak mau akan menghadapi masalah, entah besar atau kecil.

Masalah atau krisis pun dianggap sebagai batu ujian metode pembuktian kehebatan seorang pemimpin perusahaan atau CEO. Ketahanan dan kemampuan dalam menangani krisis adalah salah satu indikator kapabilitas seorang pemimpin. Apapun hasilnya, berhasil atau gagal, proses seorang pemimpin dalam menangani masalah kerap menjadi sorotan.

Menurut dosen Tuck School of Business Amerika Serikat, Paul Argenti, ada beberapa langkah bijak dalam menangani krisis di satu perusahaan. Berikut langkah-langkahnya.

1. Meminta maaf

Menurut Argenti, ada istilah yang harus diingat saat terjadi masalah. Mea culpa atau mengakui kesalahan. Dia mengatakan jika ada kegagalan, orang lain akan merasa lebih baik jika mereka memahami sang pemimpin yang merasa bersalah. Sayangnya, banyak eksekutif perusahaan enggan minta maaf karena takut akan memancing tuntutan hukum. Namun menurut Argenti, dampak dari tak mengakui kesalahan lebih mahal ketimbang potensi tuntutan hukum.

2. Menjelaskan apa yang terjadi dan akan dilakukan

Pemimpin perusahaan harus menjelaskan apa penyebab masalah yang terjadi dan apa yang akan dilakukan untuk memperbaikinya. Meski memiliki konsekuensi pahit, seorang CEO harus memiliki cara penyampaian yang baik dan menyebabkan dampak negatif sekecil mungkin. Petinggi perusahaan pun harus menjabarkan hal spesifik serta fokus untuk menangani pihak yang paling dirugikan. Dengan demikian, kepercayaan terhadap seorang pemimpin akan meningkat.

3. Mengalah

Banyak contoh pemimpin perusahaan yang mengundurka diri dengan alasan menanggung kesalahan kolektif. Dan itulah yang menjadi tanggung jawab utama seorang CEO. Selain legowo untuk mundur, seorang pemimpin layaknya mengalah dan mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang keselamatan pribadi. Misalnya, rela pesangonnya dibayar paling akhir setelah anak buahnya.
– See more at: http://plasadana.com/content.php?id=7411#sthash.5bhFUcma.dpuf

PLASADANA.COM – Agaknya sangat jarang, atau mungkin tidak ada, perusahaan yang tak pernah terkena krisis atau masalah. Sebuah entitas bisnis yang hendak beranjak dewasa dan maju mau tidak mau akan menghadapi masalah, entah besar atau kecil.

Masalah atau krisis pun dianggap sebagai batu ujian metode pembuktian kehebatan seorang pemimpin perusahaan atau CEO. Ketahanan dan kemampuan dalam menangani krisis adalah salah satu indikator kapabilitas seorang pemimpin. Apapun hasilnya, berhasil atau gagal, proses seorang pemimpin dalam menangani masalah kerap menjadi sorotan.

Menurut dosen Tuck School of Business Amerika Serikat, Paul Argenti, ada beberapa langkah bijak dalam menangani krisis di satu perusahaan. Berikut langkah-langkahnya.

1. Meminta maaf

Menurut Argenti, ada istilah yang harus diingat saat terjadi masalah. Mea culpa atau mengakui kesalahan. Dia mengatakan jika ada kegagalan, orang lain akan merasa lebih baik jika mereka memahami sang pemimpin yang merasa bersalah. Sayangnya, banyak eksekutif perusahaan enggan minta maaf karena takut akan memancing tuntutan hukum. Namun menurut Argenti, dampak dari tak mengakui kesalahan lebih mahal ketimbang potensi tuntutan hukum.

2. Menjelaskan apa yang terjadi dan akan dilakukan

Pemimpin perusahaan harus menjelaskan apa penyebab masalah yang terjadi dan apa yang akan dilakukan untuk memperbaikinya. Meski memiliki konsekuensi pahit, seorang CEO harus memiliki cara penyampaian yang baik dan menyebabkan dampak negatif sekecil mungkin. Petinggi perusahaan pun harus menjabarkan hal spesifik serta fokus untuk menangani pihak yang paling dirugikan. Dengan demikian, kepercayaan terhadap seorang pemimpin akan meningkat.

3. Mengalah

Banyak contoh pemimpin perusahaan yang mengundurka diri dengan alasan menanggung kesalahan kolektif. Dan itulah yang menjadi tanggung jawab utama seorang CEO. Selain legowo untuk mundur, seorang pemimpin layaknya mengalah dan mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang keselamatan pribadi. Misalnya, rela pesangonnya dibayar paling akhir setelah anak buahnya.
– See more at: http://plasadana.com/content.php?id=7411#sthash.5bhFUcma.dpuf

PLASADANA.COM – Agaknya sangat jarang, atau mungkin tidak ada, perusahaan yang tak pernah terkena krisis atau masalah. Sebuah entitas bisnis yang hendak beranjak dewasa dan maju mau tidak mau akan menghadapi masalah, entah besar atau kecil.

Masalah atau krisis pun dianggap sebagai batu ujian metode pembuktian kehebatan seorang pemimpin perusahaan atau CEO. Ketahanan dan kemampuan dalam menangani krisis adalah salah satu indikator kapabilitas seorang pemimpin. Apapun hasilnya, berhasil atau gagal, proses seorang pemimpin dalam menangani masalah kerap menjadi sorotan.

Menurut dosen Tuck School of Business Amerika Serikat, Paul Argenti, ada beberapa langkah bijak dalam menangani krisis di satu perusahaan. Berikut langkah-langkahnya.

1. Meminta maaf

Menurut Argenti, ada istilah yang harus diingat saat terjadi masalah. Mea culpa atau mengakui kesalahan. Dia mengatakan jika ada kegagalan, orang lain akan merasa lebih baik jika mereka memahami sang pemimpin yang merasa bersalah. Sayangnya, banyak eksekutif perusahaan enggan minta maaf karena takut akan memancing tuntutan hukum. Namun menurut Argenti, dampak dari tak mengakui kesalahan lebih mahal ketimbang potensi tuntutan hukum.

2. Menjelaskan apa yang terjadi dan akan dilakukan

Pemimpin perusahaan harus menjelaskan apa penyebab masalah yang terjadi dan apa yang akan dilakukan untuk memperbaikinya. Meski memiliki konsekuensi pahit, seorang CEO harus memiliki cara penyampaian yang baik dan menyebabkan dampak negatif sekecil mungkin. Petinggi perusahaan pun harus menjabarkan hal spesifik serta fokus untuk menangani pihak yang paling dirugikan. Dengan demikian, kepercayaan terhadap seorang pemimpin akan meningkat.

3. Mengalah

Banyak contoh pemimpin perusahaan yang mengundurka diri dengan alasan menanggung kesalahan kolektif. Dan itulah yang menjadi tanggung jawab utama seorang CEO. Selain legowo untuk mundur, seorang pemimpin layaknya mengalah dan mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang keselamatan pribadi. Misalnya, rela pesangonnya dibayar paling akhir setelah anak buahnya.
– See more at: http://plasadana.com/content.php?id=7411#sthash.5bhFUcma.dpuf