Bestprofit Futures Jakarta

“Ini menjadi kisah terbaik pada saat ini.”

VIVA.co.id – Bank Dunia memperkirakan populasi dunia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem semakin berkurang. Hingga akhir tahun ini hanya tersisa kurang dari 10 persen Bestprofit Futures Jakarta.

Dilansir Huffington Post, Senin 5 Oktober 2015, proyeksi yang dikeluarkan lembaga yang berbasis di Washington itu menyimpulkan jumlah orang yang bertahan hidup dengan US$1,9 per hari turun dari 12,8 persen dari populasi dunia pada 2012, menjadi 9,6 persen dari populasi dunia pada tahun ini.
“Ini menjadi kisah terbaik pada saat ini. Proyeksi ini menunjukkan bahwa kita adalah generasi pertama dalam sejarah manusia yang dapat mengakhiri kemiskinan ekstrem,” kata Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim.
“Penurunan kemiskinan di dunia ini menjadi momentum baru dan membantu Bank Dunia lebih fokus pada strategi yang paling efektif untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem,” tambahnya.
Seperti diketahui, PBB dan organisasi non pemerintah di seluruh dunia, sama-sama menetapkan satu tujuan untuk memberantas kemiskinan pada 2030.
“Tujuan itu tentu tidak mudah, terutama pada masa perlambatan ekonomi global yang terjadi saat ini, pasar keuangan volatile, adanya konflik, pengangguran tinggi, dan dampak perubahan iklim,” tuturnya.
Bank Dunia memaparkan, penurunan jumlah penduduk miskin tidak terjadi di beberapa daerah pusat konflik atau daerah yang bergantung pada ekspor komoditas.
Wilayah kemiskinan menjadi terkonsentrasi di sub-Sahara Afrika. Wilayah tersebut, pada 1990, menyumbang 15 persen kemiskinan global, saat ini menyumbang setengah kemiskinan global.
Bank Dunia mencatat peningkatan populasi di kota-kota negara berkembang sebagai elemen lain yang bekerja melawan pemberantasan kemiskinan secara keseluruhan.

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 2,4 persen dari prakiraan pada bulan Januari, yakni 2,9 persen. Langkah ini diambil akibat melambatnya pertumbuhan di negara-negara maju, harga komoditas yang tetap rendah, lemahnya perdagangan global, dan arus modal yang berkurang.

Menurut laporan terbaru Global Economic Prospects, negara berkembang dan negara berkembang pengekspor komoditas berupaya keras beradaptasi terhadap jatuhnya harga minyak dan komoditas utama lain, dan ini menjadi penyebab separuh dari revisi pemangkasan. Pertumbuhan di negara-negara tersebut tahun ini diproyeksikan 0,4 persen, jauh lebih rendah dari proyeksi pada bulan Januari sebesar 1,2 persen.

“Pertumbuhan yang lambat ini kembali menegaskan betapa pentingnya bagi negara untuk menerapkan kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrim,” kataPresiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim. “Pertumbuhan ekonomi adalah motor utama pengurangan kemiskinan. Karena itu kami prihatin ketika pertumbuhan di negara-negara pengekspor komoditas berkurang akibat tekanan terhadap harga komoditas.”

Negara berkembang yang mengimpor komoditas lebih tahan daripada negara pengekspor, meski keuntungan dari turunnya harga energi dan komoditas lain belum terlalu terasa. Pertumbuhan mereka diproyeksikan sebesar 5,8 persen pada 2016, berkurang sedikit dari angka 5,9 persen pada 2015, seiring dengan rendahnya harga energi dan mulai pulihnya ekonomi negara-negara maju yang telah mendukung kegiatan ekonomi.

Di antara negara-negara berkembang yang besar, pertumbuhan Tiongkok diperkirakan berkisar antara 6,7 persen pada 2016 setelah tahun lalu berada di angka 6,9 persen. Ekspansi ekonomi India yang besar diperkirakan akan stabil di angka 7,6 persen. Brazil dan Rusia diproyeksikan berada pada resesi yang lebih dalam dibanding prakiraan bulan Januari. Afrika Selatan diperkirakan tumbuh sekitar 0,6 persen pada 2016, 0,8 persen lebih lambat dibanding proyeksi pada bulan Januari.

Menurut laporan Global Economic Prospects, peningkatan signifikan dalam sektor kredit swasta – didorong oleh suku bunga rendah dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan, yang belakangan ini semakin tinggi – ikut mempertajam potensi risiko bagi beberapa negara berkembang.

“Seiring dengan upaya negara-negara untuk mengatasi tantangan, negara-negara di Asia Timur dan Tenggara tumbuh solid, seperti halnya negara-negara berkembang pengimpor komoditas di seluruh dunia,” kata Kaushik Basu, Ekonom Utama dan Wakil Presiden Senior Bank Dunia. “Namun, satu perkembangan yang perlu diantisipasi adalah pesatnya tingkat hutang swasta di beberapa negara berkembang. Saat tren pinjaman melonjak, tidak mengherankan jika tingkat pinjaman macet, sebagai bagian naiknya pinjaman sebanyak empat kali lipat.

Dalam situasi pertumbuhan yang melamban ini, ekonomi global menghadapi risiko-risiko lebih besar, diantaranya pelambatan lebih lanjut pada negara-negara berkembang, perubahan besar pada sentimen pasar finansial, stagnasi pada negara-negara maju, periode rendahnya harga komoditas yang lebih lama dari perkiraan, risiko geopolitis berbagai negara, dan kekhawatiran terhadap efektivitas kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan. Laporan ini memperkenalkan cara untuk mengkaji risiko-risiko terhadap proyeksi global dan menemukan bahwa situasinya lebih condong ke penurunan dibanding proyeksi bulan Januari lalu.

“Prospek pertumbuhan yang lambat di negara-negara berkembang akan memperlambat, atau bahkan memutar balik kemajuan yang telah dicapai dalam mengejar tingkat pendapatan agar setara dengan negara-negara maju,” kata Ayhan Kose, Direktur Group Economic Development Prospects. “Namun, selama tiga tahun terakhir, beberapa negara berkembang pengimpor komoditas mampu mempertahankan stabilitas dan pertumbuhan.” Bestprofit Futures Jakarta

 

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)