WE Online, Jakarta – Bank Dunia mengemukakan bahwa bila negara-negara bisa bersatu padu dalam mengatasi dampak perubahan iklim, bakal berdampak pada pengurangan angka kemiskinan ekstrem yang masih melanda banyak warga dunia.

“Bila tidak mengatasi perubahan iklim, kita tidak bisa mengakhiri kemiskinan,” kata Wakil Presiden Bank Dunia Rachel Kyte dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, negara-negara di dunia harus dapat berkolektif mengatasi perubahan iklim sebagai upaya global untuk mengakhiri kemiskinan sekaligus menyebarkan tingkat kesejahteraan yang lebih merata.

Upaya kolektif atau bersama itu, lanjut dia, seharusnya dilaksanakan tidak hanya oleh pemerintahan nasional, tetapi juga oleh beragam mitra pembangunan, sektor swasta, lembaga masyarakat sipil, dan komunitas lokal.

Hal itu, ujar Rachel Kyte, karena perubahan iklim tidak hanya isu lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas finansial.

Untuk itu, pemerintahan juga diharapkan dapat merancang dan menerapkan kebijakan yang menempatkan daya tahan dari pembangunan negara tersebut.

Selain itu, daya tahan juga dinilai seharusnya menjadi inti dari berbagai keputusan yang diambil oleh investor sektor swasta.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat miskin merupakan pihak yang paling terdampak oleh bencana alam, terutama karena mereka memiliki aset penghidupan yang terbatas.

“Bencana juga mendorong orang yang sebelumnya tidak miskin, masuk ke dalam kemiskinan,” katanya.

Oleh karena itu, Bank Dunia sangat mendorong program dan proyek yang memperkuat kapabilitas suatu negara dalam berhadapan dengan bencana, baik yang dibuat oleh alam maupun bencana buatan manusia