Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari detik.com

best profit 154Kelompok usaha milik pengusaha Tomy Winata berencana membangun gedung pencakar langit 111 lantai. Gedung tersebut diberi nama Signature Tower. Lantas bagaimana kelanjutan proyek bergengsi yang berlokasi di jantung kota Jakarta tersebut?

 

Bos Artha Graha, Tomy Winata menerangkan proyek tersebut tetap berjalan. Diakuinya memang ada sedikit penundaan karena pihaknya harus melakukan kajian lebih mendalam.

 

“Itu tetap berjalan. Memang kami agak mundur 6 bulan dari sekarang ini karena masalah soil atau tanah. Ternyata pengeboran harus sampai ke 300 meter. Kita harus pelajari lempengan tanah di bawah 300 meter itu. Bagaimana terhadap fungsi fleksibilitas terhadap bangunan itu sendiri,” kata pria yang akrab disapa TW kepada detikFinance di Hotel Borobudur Jakarta seperti dikutip Kamis (17/7/2014).

 

Selain itu, ada perubahan desain bangunan karena Artha Graha Group ingin meningkatkan daya tahan bangunan terhadap gempa dan angin.

 

“Kemarin kami ada kajian ulang konstruksi untuk menghadapi skala gempa 9 atau 9,5 skala richter. Kami lagi coba karena kita membangun high rise building ini uji coba untuk gempanya, pengaruh angin. Itu sangat berat terus sama finishing AMDAL-nya. Begitu selesai kita langsung konstruksi,” ujarnya.

 

Tomy mengaku investor dari mancanegara tertarik untuk terlibat di dalam pengembangan The Signature Tower bersama Artha Graha.

 

“Siapa pun negara yakni Amerika, China, Singapura, Hong Kong yang tertarik bersama-sama, kami open hand. Tapi sekarang kami sudah dalam progress,” paparnya.

Lokasi The Signature Tiwer menurut TW akan menempati eks lahan Auto Mall di tengah area SCBD. Proyek gedung pencakar langit tersebut sendiri tidak akan terpengaruh oleh gejolak kurs. Pasalnya mulai dari investasi hingga pendapatan nantinya dalam bentuk valuta asing sehingga tidak terpengaruh anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

 

“Kita dari awal, investasi dolar, cari uang pakai dolar. Terus kalau kami investasi dan income dolar jadi kalau ketemu dolar, saya pikir nggak ada masalah,” paparnya.

 

Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) yang menjadi lokasi Signature Tower dikembangkan oleh PT Danayasa Arthatama Tbk. Kepemilikan saham Tomy Winata PT Danayasa Arthatama Tbk hanya 2%, kemudian publik 17,59% dan pemegang mayoritas adalah PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) Tbk sebesar 82,4%.

 

Sementara itu, kepemilikan saham Tomy Winata di JIHD sebesar 13,15%, Sugianto Kusuma 8,08%, sementara sisanya publik sebesar 78,77%.

 

The Signature Tower dirancang menjadi gedung tertinggi ke-5 dunia dan tertinggi di Indonesia. Menara itu dirancang memiliki 111 lantai.

 

Pemilihan tinggi lantai hingga 111 lantai tak memiliki makna khusus. Namun yang pasti sesuai dengan rencana, Signature Tower ditargetkan memiliki ketinggian 600 meter, dengan nama yang sudah dipatenkan.