Bestprofit Futures Jakarta

Kepolisian Australia atau Australian Federal Police (AFP) telah menyerahkan dokumen berisi informasi mengenai Jessica Wongso, terdakwa kasus pembunuhan Mirna Salihin, atau yang dikenal luas sebagai kasus kopi sianida.

Dokumen itu menyebut bahwa Jessica diduga menderita masalah kesehatan mental yang serius.

Jessica merupakan warga negara Indonesia yang telah tinggal di Australia selama tujuh tahun. Dalam satu kesempatan, ia berlibur ke Jakarta dan bertemu dengan Mirna, teman semasa kuliah di Billy Blue Design College, Sydney.

Kasus pembunuhan yang terjadi pada 6 Januari 2016 itu hingga kini masih belum menemui titik terang karena Kejaksaan Indonesia belum menemukan bukti cukup.

Menteri Kehakiman Australia, Michael Keenan, menyetujui pemindahtanganan dokumen AFP di mana terdapat rincian perilaku Jessica yang dinilai labil dan buruk selama setahun sebelum perempuan 27 tahun itu menjadi terdakwa pembunuhan.

Dokumen yang didapatkan oleh ABC 7.30–program TV nasional Australia-berisi laporan intelijen polisi rahasia yang merinci adanya empat kali percobaan bunuh diri oleh Jessica hingga ia memerlukan perawatan.

Dalam dokumen itu juga disebut Jessica pernah melakukan perilaku yang mengancam rekan kerjanya, mengalami kecelakaan akibat alkohol, dan menjadi korban tindak kekerasan yang dilakukan oleh mantan kekasihnya.

Selain itu, dokumen tersebut juga menyebut bahwa Jessica diduga melakukan vandalisme, tapi tak ada cukup bukti untuk menuntutnya. Tak hanya itu, terdapat pesan singkat (SMS) bernada mengkhawatirkan yang dikirim Jessica kepada teman dan rekannya.

Dalam sebuah pesan, ia memberi tahu temannya bahwa ia akan kabur dari Negeri Kanguru untuk menghindari biaya hukum dan denda 15.000 dolar Australia atau Rp 150,2 juta.

“Aku bisa memakai uang itu untuk liburan yang epik. Memiliki lisensi (SIM) baru di mana saja tempat ayahku memiliki kekuasaan. Daripada memberikan uang kepada para polisi bodoh,” isi pesan singkat itu seperti dikutip dari ABC, Selasa (9/8/2016).

Dalam pesan lain Jessica menulis, “Aku ditekan lagi dan aku akan memberontak lagi.”

Selain SMS, terdapat e-mail yang dikirim oleh Jessica ke seorang rekannya di Australia tiga minggu setelah ia menjadi tersangka pembunuhan.

“Aku pergi ke luar negeri karena orang-orang terus menggangguku dan orang tertentu membuatku terus berada dalam kesulitan,” tulis Jessica.

“Aku tak yakin apa yang telah kulakukan sehingga aku menerima semua ini.”

“Namun itu tak berakhir di sana. Bahkan ketika di luar negeri dan jauh dari semua orang, aku masih mengalami persoalan. Jadi sekali lagi. Aku kalah dalam pertempuran,” ujarnya.

 (mfs – Bestprofit Futures Jakarta)