Bestprofit Futures Jakarta

PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) (Jasindo) menargetkan perolehan pendapatan premi tahun depan mencapai Rp 5,8 triliun hingga Rp 6 triliun.

Jasindo pada 2016 ini menargetkan perolehan pendapatan premi sebesar Rp 5,6 triliun, terdiri dari sektor korporasi sebesar Rp 4 triliun dan bisnis ritel sebesar Rp 1,6 triliun. Bestprofit Futures Jakarta
Direktur Teknik dan Luar Negeri Jasindo Syarifudin memperkirakan pendapatan premi dari sektor korporasi akan tumbuh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan premi dari bisnis ritel di tahun depan.

“Kami melihat, khusus untuk korporasi pertumbuhannya tidak sebesar atau setinggi ritel. Saya masih memperkirakan untuk korporasi di bawah 10 persen. Tetapi khusus untuk ritel pastinya antar 15-20 persen,” kata dia di Jakarta, Senin (21/11/2016).

Syarifudin menuturkan, saat ini kontribusi dari korporasi masih dominan dibandingkan dengan ritel, dengan rasio antara 70 persen banding 30 persen.

Mengapa pertumbuhan sektor korporasi akan lebih rendah dibandingkan ritel di tahun depan? menurut Syarifudin, perusahaan melihatnya dari pengelolaan risiko yang ada di klien korporasi utamanya BUMN.

Pengamatan Jasindi, pengelolaan risiko itu makin lama makin membaik. Sehingga, hal ini sangat berpengaruh terhadap biaya asuransi yang harus dibayarkan oleh klien korporasi.

Syarifuddin mencontohkan, kinjera pengelolaan risiko PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terus membaik. Hal ini diakui Syarifudin berpengaruh terhadap belanja asuransi yang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.

“Di samping itu juga kondisi pasar asuransi sangat soft sekali, tahun ini akan berlanjut tahun depan. Sehingga pertumbuhan pendapatan premi ini juga sangat dipengaruhi berapa besar pertumbuhan asuransi tahun depan,” imbuh Syarifudin.

Direktur Teknik dan Luar Negeri Jasindo Syarifudin mengatakan, pada akhir 2016 saja, pihaknya menargetkan pendapatan premi sebesar Rp 5,6 triliun.

Angka itu bertumbuh 16,67 persen dibanding realisasi pendapatan premi 2015 yang sebedar Rp 4,8 triliun.

“Target 2017 mendekati Rp 6 triliun, kalau tahun ini kami prediksikan Rp 5,6 triliun tentunya sesuai harapan pemegang saham. Diharapkan ada pertumbuhan yang hampir sama dengan pasar 10-15 persen sehingga kami proyeksikan antara Rp 5,8 – Rp 6 triliun di 2017,” ujar Syarifudin di Jakarta, kemarin (21/11).

Target tersebut diharapkan didapat dari korporasi dan ritel.

Dia memperkirakan, pendapatan premi dari korporasi akan tumbuh di bawah sepuluh persen.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)