http://nasional.news.viva.co.id.

Sering kali seseorang menyimpulkan sesuatu itu salah.

VIVA.co.id – Saat menjadi santri di Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal bercerita tentang seseorang yang pergi ke dokter mata. Setelah sampai, dokter pun memberikan kepadanya kaca mata, untuk mengetahui kadar minus matanya.

Dokter kemudian meminta kepadanya untuk membaca alphabet dan pasien pun tidak bisa membacanya. Maka dokter pun mengganti dengan kaca mata lainnya, dan bertanya kepada pasien.

“Huruf apa ini?” tanya sang dokter.

“Saya tidak bisa baca,” jawab si pasien.

Setelah gonta-ganti kaca mata, pasien juga tetap tidak bisa membaca. Akhirnya dokter bertanya kepadanya. Apakah engkau bisa membaca? Serasa tak berdosa pasien pun menjawab, “Saya tidak bisa baca, dokter.”

“Kenapa tidak mengatakan dari tadi,” ketus dokter dan terlihat sedikit emosi.

Dalam kehidupan ini banyak yang tidak bisa kita lihat, seperti Allah. Itu semua bukan berarti Allah tidak ada, tetapi pandangan kita yang terbatas. Bukankah kelelawar tidak bisa melihat di siang hari, bukan karena siang tidak ada, tetapi kelelawar itu tidak bisa menatapnya?

Sering kali seseorang menyimpulkan sesuatu itu salah, seperti menyebut Alquran tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal, semua itu karena kemampuannya yang terbatas dalam memahami firman-Nya.

Ketika mata sang anak tidak bisa membaca bukan berarti huruf-huruf alphabet tersebut tidak ada. Apalagi tidak bisa dibaca.

 

Ditulis oleh Ustad Faisal Kunhi, MA

Alumni Ponpes Gontor, Korps Dai PKPU, pernah bertugas Duta Dai PKPU ke Korea Selatan dan Jepang.