2 Tokoh Penting di Balik Lahirnya KAA

http://news.liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta – Menjadi tuan rumah bagi Konferensi Asia-Afrika (KAA) membuat nama Indonesia dengan keadaan yang baru merdeka menjadi sangat terkenal di dunia internasional.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Kamis (23/4/2015), Indonesia berani bertindak untuk turut menjaga ketertiban dunia dengan mendukung negara-negara yang belum merdeka untuk melawan kolonialisme Amerika dan Rusia.

Pada saat itu Presiden Soekarno konsisten menolak kolonialisme. Menurut dia, semua negara di dunia ini berhak memiliki kemerdekaannya sendiri dan tidak boleh ada intervensi dari negara lain atau dikuasai.

Perihnya penjajahan mengajarkan banyak hal kepada Soekarno termasuk pentingnya persatuan dan kerja sama antarnegara yang pernah maupun masih mengalaminya.

Semangat berdiri di atas kaki sendiri berdikari Bung Karno, sapaan lain Soekarno disambut hangat oleh negara-negara Asia Afrika. Maka KAA di Bandung tahun 1955 menjadi pembuktian gagasan besar Bung Karno.

Bandung dipilih Bung Karno karena ia ingin menegaskan kepada dunia bahwa dari Bandung-lah awal gerakan kemerdekaan yang dipimpinnya melawan kolonialisme dan imperialisme.

Di kota inilah, Soekarno muda mendirikan Algemene Studie Club, cikal bakal Partai Nasional Indonesia. Di kota ini pula Pleidoi Indonesia menggugat dibacakan di hadapan peradilan Hindia Belanda pada tahun 1930.

Tokoh lain yang berperan penting hingga akhirnya KAA terlaksana adalah Ali Sastroamidjojo yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri.

Ali menegaskan, politik luar negeri bebas aktif Indonesia pada saat persiapan KAA di Kolombo dan Bogor di tahun 1954. Frase politik luar negeri berdasarkan kepentingan rakyat menuju ke arah perdamaian dunia.

Lobi-lobi Ali Sastroamidjoyo berhasil. India, Pakistan, Birma (Myanmar), dan Srilanka mendukung penuh penyelenggaraan KAA.

Dari ide serta upaya Bung Karno dan Ali Sastroamidjojo, gagasan Indonesia yang awalnya dianggap terlalu muluk dan utopis akhirnya bisa terwujud.

Indonesia tercatat dalam sejarah sebagai negara yang memprakarsai gagasan terbentuknya kekuatan ketiga, sehingga bebas dari pengaruh dan tekanan blok Barat maupun blok Timur. (Vra/Ans)